Sabtu, 28 Juli 2012

Awal

Hmmmm cerita darimana yaa?? Aku juga bingung nih :/
Status aku sekarang jadi pacar Dia, padahal kemaren2 aku masih jadi adek2 an nya hihihi. Hmm penantian Dia selama 1 tahun akhirnya berbuah manis juga, itu kesan pertama yang aku liat dari ekspresi senengnya pas aku bilang "terima" jadi pacarnya.
»»  READ MORE...

Kamis, 19 Juli 2012

Pengharapanku

Yaaa Allah swt ...
Aku berdoa untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seorang yang sungguh mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua dihatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk-Mu
»»  READ MORE...

Selasa, 03 Juli 2012

Kemuning Senja di Beranda Mekkah (Part 1)


KARYA: ABU UMAR BASYIER
»»  READ MORE...

Kemuning Senja di Beranda Mekkah (part 2)

LANJUTAN


Panjang lebar, Rafiqah menjelaskan. Pram diam terpana semua kata Rafiqah menyemburkan bias-bias cahaya kebenaran yang begitu jelas. Penjelasan seperti itu memang tidak pernah ia dapati dibangku kuliahnya dulu. Pola berpikir sekuler telah mengunci otaknya untuk dapat menyentuh sisi-sisi pemahaman yang sesungguhnya amat sederhana itu. Selama ini ia tahu bahwa istrinya adalah wanita yang shalihah namun setahunya sang istri tak pernah belajar dipesantren. Ia juga hanya lulusan SMU tapi logika dan cara memaparkan masalah yang diperagakan oleh Rafiqah menunjukan kematangan berpikirnya. Pemahaman keagamaan yang polos justru menciptakan kedewasaan yg menakjubkan pada diri istrinya, Pram terpukau dibuatnya.

Perbincangan itu membekas dalam diri Pram 'seniman kecil' dilubuk hatinya berusaha menggerakkan akal sehatnya untuk menerima saran-saran Rafiqah tapi terutama dalam kasus ini ia merasa sudah terlambat.Bisa saja ia memberi ide susulan karena dalam proyek ini ia dan Pak Budi punya wewenang yang seimbang namun untuk mengajukan ide setelah terbukti sebelumnya ia menerima keputusan rapat, sungguh sangat sulit. Ia betul2 tak punya nyali untuk itu.

Berhari-hari Pram memikirkan hal itu, pro dan kontra itu kini justru berdesak-desakan dalam jiwanya mencari posisi. Otaknya bagai terbakar, pesan-pesan istrinya yang secara idealis telah ia akui kebenarannya berbenturan hebat dengan endapan ambisi dan kecemasan mengalami kegagalan namun Alhamdulillah bisikan sang seniman kecil dipojok hatinya akhirnya menang. Ia memutuskan untuk menolak keputusan rapat dengan Pak Budi namun sayang proposal sudah terlanjur ditandatangani oleh Pak Budi, sebagai representasi pihak kontraktor. Dia dan Pak Budi, Pram menjadi kalut sendiri akhirnya ia memilih mundur dari proyek tersebut dan secara otomatis posisinya digantikan oleh pihak lain.

Ia memang tak mengalami kerugian besar secara materi tapi keputusannya itu menutup jalan baginya untuk meraup keuntungan besar dari proyek tersebut secara keseluruhan. Pram tak menyesali keputusannya itu. Ia justru bangga bisa menjadi keshalihan seorang Rafiqah. Hal yang selama ini tak pernah ia rasakan ternyata kemuliaan wanita itu baru mulai dirasakan namun kehebohan justru muncul dari sisi lain...

Satu minggu setelah kejadian itu saat Pram sedang diluar kota, Pak Broto bersama Bu Broto datang ia mendengar bahwa Pram menggagalkan eksekusi sebuah proyek besar hanya karena menuruti kemauan Rafiqah. Betapa anehnya! Mereka datang kerumah putrinya dan menantu mereka itu dengan kemarahan meluap-luap. Rencananya Pak Broto juga ingin menegur Pram, ia sangat menyayangkan sikap Pram yang justru loyo dihadapan Rafiqah, padahal Ia adalah kepala rumah tangga disini seharusnya ia punya sikap tegas dan itu yang diharapkan Pak Broto darinya semenjak pernikahannya dengan putrinya Rafiqah. Kenyataan ini sedikit melukai kepercayaannya pada Pram.

Sayang, Pram tak ada dirumah akhirnya kemarahan itu dilampiaskan kepada Rafiqah. Pak Broto membentak-bentak putri kesayangannya itu, memarahinya habis-habisan, mencerca dan menuding-nudingkan telunjuknya kewajah putrinya tersebut. Mengecamnya dengan kata-kata kasar yang selama ini tak pernah keluar dari mulutnya. Mendapatkan serangan bertubi-tubi seperti itu, apalagi tak mendapatkan pembelaan secuil pun dari ibunya atau dari Pram karena kebetulan suaminya itu sedang tak ada dirumah membuat Rafiqah terpukul hebat, ia menangis mendengar tangisan Rafiqah, Pak Broto justru semakin kesal.

"Kamu ini anak yang tidak tahu diuntung, kamu tidak tahu betapa sulitnya mencari kesuksesan dimasa sekarang ini. Kamu pikir dengan berbuat demikian, kamu menjadi pahlawan dirumah ini? Tidak! Kamu sekarang ini justru menjadi musuh dalam selimut kalau kamu tetap bersikap seperti itu, Pram pasti akan bangkrut tak ada orang yang mau bekerja sama dengan Pram lagi, sudah beruntung kami menikahkanmu dengan Pram. Pintu kesenangan didepan mata sekarang kamu berlagak Nabi dan menutup pintu kenikmatan itu rapat-rapat. Ini yang pertama dan terakhir kali kami mau mendengar kamu merecoki bisnis Pram bila kami dengar yang kedua kali kami tak akan mengakuimu lagi sebagai anak. Mengerti kamu hah!!"

Air mata Rafiqah makin deras mengalir, kata-kata papanya itu ibarat tikaman pedang dilubuk jantungnya. Ia tak pernah menduga bahwa konflik pemikiran antara dia dengan papanya bisa berakibat serunyam itu. Saat ia tenggelam dalam tangisan itulah Pak Broto keluar rumah dengan membanting pintu, dada Rafiqah makin sesak tangisnya makin sendu sedan. Payahnya ia beku dalam kesendirian saat itu ia amat membutuhkan kehadiran Pram lebih dari yang ia butuhkan pada hari-hari sebelumnya. Malam itu, ia habiskan dengan bersimpuh dihadapan Allah memohon kekuatan dari yang maha perkasa sungguh hanya kepada-Nya ia bertawakal seutuhnya.

2 hari kemudian Pram pulang, Rafiqah tak berani menceritakan kejadian dengan orangtuanya kepada Pram. Ia tak ingin hati suaminya itu ternodai kesedihan. Saat tubuh dan pikirannya sudah terkuras untuk mengurus link-link bisnisnya diluar kota Rafiqah cukup tahu diri. Saat itu Pram pulang jan sudah menunjukan pukul 21.00 malam, mereka hanya sempat berbincang-bincang sejenak kelembutan tutur kata Pram semakin terasa Rafiqah merasakan perubahan itu secara nyata, kepekaan hati wanita memang mampu menangkap sinyal romantisme yang betapa pun halusnya. Usai mengobrol sejenak Rafiqah menemani suaminya beristirahat. Malam itu Pram tidur begitu nyenyak, otaknya dibelai kelembutan yang begitu memanjakan jiwa.

  • KUNJUNGAN HERYANI

"Wah, susah juga mencari-cari rumahmu. Disini tho?" ungkap Heryani, gadis jawa kelahiran jakarta itu, saat akhirnya tiba dirumah Rafiqah. Mereka berpelukan. Saat itu Rafiqah sedang dirumah Pram baru datang dari Bandung dan waktu itu sedang beristirahat dikamarnya.

Perjumpaan dengan Heryani itu untuk pertama kalinya semenjak pernikahan Rafiqah dengan Pram dua bulan yang lalu. Heryani datang untuk menagih janji Rafiqah yang katanya akan melanjutkan studinya setelah menikah. Heryani sendiri mengikuti kuliah di LIPIA (Lembaga ilmu pengetahuan islam dan bahasa arab) dimatraman raya, ia mengikuti program sore khusus buat muslimah karena masih minim perbendaharaan bahasa arabnya ia mengikuti pendidikan dari tingkat paling dasar I' DAT LUGHAWI. Sejenis kelas persiapan pematangan bahasa arab sebelum masuk kejenjang kuliah yang sebenarnya.

"Alhamdulillah, akhirnya kita berjumpa juga. Bagaimana kabar Ayahmu? Sehatkah?" tanya Rafiqah kepada teman dekatnya dari masa kecil itu.

"Alhamdulillah, Iqah baik-baik saja. Mas Aziz juga sehat kok." canda Heryani.

"Huss, di dalam ada Mas Pram hati-hati kamu Her." sergah Rafiqah, Heryani hanya tertawa empuk.

"Bagaimana kehidupan rumah tanggamu Iqah?"

"Alhamdulillah, baik2 saja. Semuanya terkendali kok." ujar Rafiqah santai.

"Itulah takdirmu, Iqah. Aku gak nyangka kamu bisa menikah secepat ini, kukira papamu itu tipikal ambisius yang mau semua anaknya berpendidikan tinggi." ungkap Heryani tak habis pikir.

"Ya,semula aku berpikir seperti kamu juga. Aku sempat heran ketika papaku menyuruhku menikah tapi tampaknya papaku memiliki rencana tersendiri. Ia terobsesi bahwa dengan menikahi Pram aku akan berubah tak lagi bersikap ekstrim dan fanatik terhadap keyakinan islamku tapi kayaknya Pram tak seutuhnya seperti yang diduga papaku..."

"Maksudmu?" potong Heryani.

"Pram memang dibesarkan dilingkungan sekuler cara berpikirnya melonjak-lonjak berusaha menerobos segala etika dan kenormalan lingkungannya. Baginya itu cara berpikir yang progresif, ia juga tidak pernah dididik dengan norma-norma keislaman secara detil. Ia shalat tapi tak pernah mengerti bahwa islam itu adalah the only way of life namun sejauh ini karakter dan kepribadiannya baik sekali bahkan bagiku sangat memikat dilihat dari keberadaan dirinya sebagai orang yang tidak murni religius bukan dari kalangan santri dan tidak terbiasa hidup secara islami mungkin ia bisa diibaratkan mutiara hitam yang bila dipoles dengan tangan dingin secara akurat dan hati-hati pasti menyemburatkan cahaya alaminya yang memesona..." Rafiqah bertutur panjang.

"Aih, baru kali ini aku mendengarmu memuji-muji pria selain Azizmu itu..." seloroh Heryani.

"Huss, ngawur. Jelas dong, Pram itu kan suamiku Her. Kamu ini gimana sih?" mata Rafiqah membulat mencoba menggertak temannya itu tapi Heryani tidak takut sedikit pun ia malah tertawa lebih lepas. sampai lupa, kalau ia berada dirumah orang lain.

"Ok, aku sekarang serius Iqah. Apa menurutmu Pram itu sudah tipikal ideal sebagai suami?"

"Kalau engkau bertanya saat ini, aku rasa ya. Aku yakin demikian. Aku tidak mengatakan ia adalah tipikal suami sempurna seperti yg aku idam-idamkan karena kesempurnaan itu amat relatif. Ideal tidak harus berarti sempurna mendapatkan pasangan hidup yang ideal sudah merupakan anugerah. Terutama dizaman seperti ini, sedikit orang yang punya kesempatan demikian. Kenapa aku katakan ia suami ideal bagiku? Karena meski kami memiliki cukup banyak perbedaan dalam hal-hal prinsipil, namun kami memiliki kesamaan yang ajaib, kami ingin sama-sama belajar dan menata diri kami berusaha agar segala perbedaan itu bisa terkikis hingga menyatu dalam keserasian. Kamu jangan salah paham, Her. Aku tak sedikit pun mau mengorbankan prinsip-prinsip agama apalagi akidah yang aku yakini tapi aku menuntut Pram untuk bisa menyempurnakan sisi-sisi pemahaman agamanya, sisi komitmennya terhadap ajaran agama, ia juga menuntutku menjadi istri yang patuh yang mau. Senantiasa membantu suami dan itu tidak mudah, aku perlu banyak belajar. Kami sering berbenturan pada sisi interpretasi pada kepatuhan itu. Aku membatasinya pada hal-hal yang kuanggap tak melanggar aturan Allah dan ia sering tidak bisa menerimanya tapi aku sadar ia tidak menerima bukan berarti ia kejam namun hanya karena ia belum bisa memahaminya makanya aku selalu menghibur diri dengan hadist Nabi,

"Janganlah seorang suami beriman membenci istrinya yang beriman karena kalau ia tidak menyukai salah satu tabiatnya pasti ada tabiat lain yang membuatnya merasa senang." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ahmad)

Sebagaimana suamiku belajar memahamiku aku pun belajar memahaminya. Bagiku usaha untuk saling memahami adalah kunci utama menuju perbaikan diri tanpa itu keserasian pun nyaris tak berarti apa-apa...."

"Wah,kamu memberiku wawasan baru Iqah. Betul kata orang pengalaman itu guru yang terbaik tapi aju memang melihatmu berbeda Iqah."

"Berbeda bagaimana?" tanya Rafiqah.

"Aku lihat banyak diantara akhwat yang meskipun sudah memiliki suami yang taat beribadah, sudah lama mengaji tapi masih selalu mengeluhkan perbedaan-perbedaan sepele diantara mereka. Saat aku melihatmu menikah dengan Pram aku pikir engkau akan sangat menderita dan engkau tak akan mampu keluar dari jebakan konflik yang akan memenjarakan kepribadianmu tapi ternyata engkau mampu bersikap sedemikian dewasa, optimisme dalam dirimu membuatmu terkagum-kagum Iqah."

"Aku menyimpan satu hal yang menjadi prinsipku, Her."

"Apa itu?"

"Aku merasa kepatuhanku kepada papa sudah pada tempatnya. Silahkan semua orang menyanggahnya tapi aku berkeyakinan begitu."

"Aku belum mengerti.."

"Begini, papaku menyuruhku menikah dengan pria yang dianggap baik Ia mengukur dengan sudut pandangnya sendiri terlepas dari ambisi yang mengendap dibalik keputusannya itu, aku menganggap ia telah menyuruhku berbuat baik mungkin standar kebaikan dan keshalihan menurutnya amat rapuh tapi aku memakluminya bila ayahku menyuruhku menikah dengan pria yang aku tahu secara pribadi adalah pria bejat, buruk akhlaknya & tidak jelas perikehidupannya aku pasti Sudah menolak mentah-mentah!!"

"Lalu,kenapa engkau akhirnya menerima lamaran Pram?"

"Entahlah, Her tapi yang jelas aku melihatnya sebagai pria baik, ia memiliki sifat dan karakter yang baik lalu ia menyukai wanita yang berjilbab lebar tidak bersikap apatis seperti papaku. Dalam hati kecilku tersimpan sebuah keyakinan bahwa Pram bisa berubah lebih baik bagiku untuk apa menyimpan timah bersepuh emas? Lebih baik aku memiliki emas yang berselubung lumpur hitam yg pekat sekalipun karena aku masih bisa berharap lumpur itu akan terbuang dan kemuning emasnya akan berkilau suatu hari..."

"Masya Allah! Aku tak menyangka kepribadianmu seindah itu Rafiqah..."

"Ayahmu yg mendidikku menjadi seperti ini, Her..."

"Tapi aku ini putrinya, aku sendiri tak pernah berpikir seperti caramu tak pernah memiliki kebeningan hati, seperti hatimu..."

"Tidak Her, aku tak sebaik kamu. Kalau ada nasihat dan petuah dari ayahmu yang engkau sendiri tak mampu menelannya itu biasa kadang anak seorang dokter malas menelan obat yang diresep oleh bapaknya sendiri makanya banyak anak dokter hanya mau berobat sama orang lain..."

"Maksudmu, aku harus belajar dari selain ayahku?"

"Apa kamu memang mau belajar hanya dari ayahmu saja, Her? Untuk apa kamu kuliah segala?"

"Wah, ngomong sama kamu kadang nyenengin, kadang bikin sewot!"

"Enggak Her, aku serius kok. Banyak petuah ustadz Qomaruddien yang mungkin bagimu biasa karena kamu terlalu sering mendengarkannya tapi justru terpatri dalam diriku. Aku semakin dewasa karena itu...."

"Jadi kamu nyaman bersama Pram?" tanya Heryani lagi.

"Kok,kamu nanya gitu sih? Jelas dong, Pram itu kan suamiku, aku mencintainya dan dilubuk hatiku yang dalam terselip sejuta harapan sekaligus keyakinan bahwa Pram akan selalu menjadi lebih baik...., aku yakin."

"Alhamdulillah,aku turut senang Iqah."

Dibalik ruang tamu dibelakang tirai tepat disisi pintu kekamar tidur, sepasang mata meneteskan cairan bening. Ia terharu bukan main pemilik sepasang mata itu adalah Pram, Pramono agung setia suami Rafiqah yang ternyata terbangun dari tidurnya dan sempat mendengar sebagian ucapan-ucapan arif dan bijak yang keluar dari mulut istrinya. Istri yang amat dicintainya, kini cinta itu bahkan membuncah menjelma menjadi pemuliaan.

Pram kepayahan menahan gemuruh rasa haru didadanya. Sungguh ia merasa menjadi pria beruntung didunia memang selama ini ia juga heran kenapa dari semenjak awal melihat wanita ini hatinya sudah terpikat. Kenapa selama ia kuliah di UI Jakarta dan saat ia menempuh pendidikan untuk meraih gelar S2 nya di Oxford University london ia tak pernah tertarik pada wanita manapun padahal secara fisik banyak wanita yang lebih cantik dari Rafiqah tertama sekali wanita-wanita amerika berdarah yahudi yang pernah ia kenal. Kenapa ia justru terpikat pada Rafiqah at the first sight? Wanita berjilbab lebar yang begitu sederhana tampilannya dan padahal selama ini ia tak pernah membayangkan akan memiliki istri yang mengenakan gaun muslimah sempurna seperti itu? Ternyata Allah membimbingnya untuk menuju relung-relung kesadaran melalui keluhuran budi wanita mulia ini. Subhanaallah!!

Ia tak menyangka hati istrinya sebening itu, cinta istrinya sebersih itu pandangan istrinya terhadapnya sejernih dan sebaik itu Kepatuhannya selama ini kepada suaminya semulia itu. Justru dia pria yang sungguh tak tahu malu ini yg nyaris menjerumuskan wanita suci itu ke lembah kenistaan. Nyaris ia membuat istrinya terjebak dalam maksiat demi maksiat, nyaris ia menjejali perut istrinya dengan makanan-makanan haram. Ohhh...., betapa sikap istrinya terhadapnya selama ini berasal dari luapan cinta kasih yang bersih bukan dari nafsu syahwat yang kotor dan keji. "Ya Allah,betapa lalimnya aku sebagai suami," Pram mengeluh dalam batin, air matanya tumpah ruah tak terbendung...

  • MOMENTUM-MOMENTUM TAK TERDUGA

Pertemuan Rafiqah dengan Heryani sungguh berbuah berkah. Kesadaran iman yang mulai menyelinap didada Pram berkembang menjadi benih tobat yang begitu indah namun sungguh tak terduga sama sekali. Hal itu kelak mengagetkan banyak orang bahkan Rafiqah sendiri yang sudah memendam keyakinan akan perubahan pada diri suaminya juga tak lepas dari rasa kekagetan itu bahkan ia terperajat habis, ia begitu terpana hatinya tersenyum berbunga-bunga.

"Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya." (AL FURQAN:71)

"YA Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang maha penerima tobat lagi maha penyayang." (AL BAQARAH:128)

Selepas kepergian Heryani, Rafiqah bergerak kekamarnya saat ia membuka tirai penghubung kamar tengah dan ruang tamu lalu berbelok kekiri menuju kamarnya hingga tiba didepan kamar pribadinya bersama sang suami, ia berdiri terpaku disitu ia dapati suaminya sedang duduk bersimpuh, kepalanya tertunduk kedua tangannya diletakkan lembut diatas kedua pahanya agak kedepan dekat dengan kedua lututnya jari jemarinya setengah mencengkeram bagian atas lututnya persis posisi tangan duduk diantara dua sujud. Saat Rafiqah termangu-mangu memandangnya kepala suaminya itu terangkat.

Dada Rafiqah bergemuruh, ia melihat sesuatu yang benar-benar aneh namun nyata. Ia melihat wajah suaminya begitu sendu namun teduh tak pernah seteduh itu kedua belah matanya merah bersimbah air mata warna merah itu bahkan merambati pinggiran kelopak matanya bagian atas dan bagian bawah, hidungnya juga memerah layaknya orang sedang mengindap penyakit pilek ia tahu suaminya sehat, ia hanya baru saja tertidur kelelahan jadi jelas suaminya baru saja menangis hebat!!

Ia tak pernah menyaksikan suaminya menangis, suaminya termasuk tipikal pria yang keras hati tapi kini kenyataan yang ia lihat adalah demikian.

Rafiqah menghampiri suaminya, ia duduk bersimpuh dihadapan suaminya dekat sekali sehingga kedua lutut mereka bersentuhan. Kedua mata mereka saling memandang kearah pasangannya dengan keteduhan yang membeningkan hati. Pram kembali terisak Rafiqah langsung menyadari apa yang terjadi suaminya pasti mendengar obrolannya dengan Heryani, ia yakin itu maka tanpa jeda air mata haru pun mengalir deras dari sisi kedua matanya. Kedua insan berlainan jenis sepasang suami istri itu perpelukan mereka meluapkan segala kebahagiaan yg menyesak dada dalam sebuah fragmen singkat dan adegan sederhana yang mengharukan, keduanya tenggelam dalam tangis, tangisan bahagia yang berajut haru.

Selama beberapa saat keduanya menyelami indahnya kebersamaan sesungguhnya, kebersamaan yang dibalut keserasian hati hal yang selama ini baru terwujud angan-angan dalam benak Rafiqah kini tersulap menjadi kisah nyata yangg mendebarkan jiwa.

Manusia boleh menduga tapi kenyataan hanya Allah yang berhak menentukannya. Pram adalah pribadi yang kuyub dengan bahasa kemodernan dengan dunia masa kini yang kerap membius manusia dengan keajaibannya ia tak pernah mau terikat dengan konsep kebebasan mendengar nama Pram setiap orang yang mengenalnya akan dipaksa untuk membayangkan sosok pribadi yang moderat, tangguh dalam usaha, berdedikasi tinggi, berhati baja, supel, energik, berpikiran maju namun betul-betul dunia didepan mahluk-makhluk dunia ia memang layaknya superstar yang dipuja-puja.

Tapi siapa sangka hanya dalam hitungan menit usai mendengarkan ucapan istrinya yang bukan sebuah ceramah hebat, bukan syair gubahan pujangga kenamaan, bukan puisi buah karya budayawan terkemuka hanya sebuah ucapan yang sederhana saja yang tercetus dalam obrolan santai tiba-tiba hatinya terketuk jiwanya melambung membelai-belai langit kesadaran imannya terkuak begitu jernih menampakkan sisi kepribadian sejati miliknya yang putih kemutih. Kepribadian pria yang bukan hanya ingin menangguk keberuntungan di alam dunia saja namun juga merengkuh lumbung bahagia diakhirat.

Tobat itu tak hanya membuat Pram menjadi semakin mencintai istrinya namun menumbuhkan semangat baru untuk melakukan perbaikan diri diawali dengan memperbaiki kualitas shalatnya ia mulai belajar tentang tata cara shalat yang benar dibawah bimbingan istrinya Rafiqah. Sebisa mungkin Rafiqah mengajari suaminya meski ia sendiri merasa belum pantas untuk mengajar. Lalu Pram mulai banyak bertanya tentang makna tauhid, arti dan konsekuensi sesungguhnya dari 2 kalimat syahadat. Rafiqah membacakan kepada suaminya terjemah kitab Al Ushulul Ats Tsalaatsah dan Kasyfusy Syubuhaat. Kitab pertama sebuah buku kecil yang membahas tentang 3 pondasi dasar keislaman yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi Muhammad dan mengenal islam dengan dalil-dalilnya.

Apa itu Allah? Apa kewajiban utama kita kepada-Nya? Siapa itu Nabi Muhammad? Apa kewajiban kita terhadapnya? Apa itu islan? Apa rukun-rukunnya? Apa penguat dan penyempurnanya?

Kitab kedua membahas tentang keranbuan terhadap pemahaman Laa Illaha Illalah banyak orang mengucapkannya namun tidak mengerti makna dan konsekuensi kalimat tersebut.
Orang-orang arab dahulu mengenal betul arti Laa Illaaha Illallah, sehingga mereka enggan mengucapkannya tapi banyak orang sekarang yang mengucapkannya karena mereka tak tahu maknanya.

Laa Illaaha Illallah sering diterjemahkan dengan tidak ada Tuhan selain Allah itu terjemahan yang tidak sempurna karena tidak ada Tuhan selain Allah adalah terjemahan Laa Rabba Illallah. Rabb dan Ilaah berbeda maknanya. Tidak ada Tuhan selain Allah, berarti pengakuan bahwa tidak ada Rabb selain Allah. Rabb itu pencipta, pengatur, pemberi rezeki yang menghidupkan dan yang mematikan. Pengakuan seperti itu sudah dimiliki oleh masyarakat arab kala itu kalau arti Illaaha Illallah itu demikian berarti masyarakat kafir Quraisy sudah masuk islam sejak dulu tak perlu didakwahi masuk islam lagi karena mereka mengakui Allah itu sebagai pencipta, pengatur, pemberi rezeki yang menghidupkan dan yang mematikan.

Illaaha Illallah artinya tidak ada ilaah selain Allah yakni tidak ada yang berhak diibadahi secara benar kecuali Allah jadi Ilaaha Illallah itu adalah tauhid Uluhiyyah mengesakan ibadah hanya kepada Allah bukan hanya tauhid Rububiyyah yang hanya berupa pengakuan bahwa Allah itu sebagai pencipta, pengatur, pemberi rezeki yg menghidupkan dan yg mematikan.

Mulai dari situ, Pram mulai mengerti kekeliruannya dalam berkeyakinan selama ini. Meminta berkah dari makhluk hidup seperti dukun, pohon angker, jin, kuburan dan sejenisnya adalah kemusyrikan berlawanan dengan konsep tauhid bertentangan dengan syahadat Ilaaha Illallah, musyrik berarti kafir bila mati dalam kondisi demikian meski mengaku muslim seseorang bisa saja justru mati dalam kekafiran. Hihh, merinding bila membayangkannya, Pram merasa beruntung memperoleh kesadaran itu sebelum maut menjemput jiwa.

Dalam beribadah, Rafiqah mengingatkan Pram akan bahaya bid'ah yaitu tata cara beribadah yakni ibadah murni seperti shalat, puasa, haji dan yang lainnya yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Semenjak kecil Pram telah mengenal shalat bahkan hingga kini meski masih bolong-bolong Pram masih menjalankannya namun selama ini ia mana peduli dengan bagaimana ia melakukan shalatnya. Apa ia shalat seperti yg diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya? Atau selama ini ia hanya membeo dan meniru mentah-mentah gerakan-gerakan dan bacaan shalat dari siapa saja yang ia tahu telah mengenal shalat sebelum dia. Kini matanya terbuka lebar ternyata untuk menjalankan shalat pun secara detil-detilnya islam sudah mengajarkannya. Nabi mencontohkannya sedemikian cermat dan satu per satu kepada para sahabat beliau, Pram selama ini tak pernah memperhatikan hal itu. Baginya shalat ya seperti itu saja, bagaimana ia melihat bapaknya shalat begitu pula ia melakukannya.

Secara perlahan tapi pasti Pram mulai banyak mengenal sisi-sisi detil dari ajaran agamanya. Makin masuk ke substansi ajaran islam yang lebih mendalam, Rafiqah sendiri tak lagi mampu mengajarkannya meski ia tidak seawam suaminya namun ia bukan orang berilmu akhirnya ia mengajak suaminya menghadiri majelis-majelis ilmu yang diisi oleh ustadz Qamaruddien dan juga teman-teman beliau sesama ustadz sebut saja ustadz sholah, ustadz Hamidi dan beberapa ustadz lain agar tidak kesulitan Rafiqah mengajak suaminya hanya menghadiri pengajian disatu masjid saja yang setiap habis Isya diisi oleh ustadz2 tersebut secara bergantian.

Disitu ada materi2 akidah, fikih, tahsin atau pembagusan bacaan Al Quran sesuai akidah-akidah tartil dan tajwid dan juga tafsir.

Pram amat senang, ia bagai seorang musafir yang begitu dahaga melihat cawan-cawan berisi air yang menyegarkan dan memancing selera. Semua hal-hal yang baru tentang islam, dilahapnya tanpa sisa. Segala kepelikan detil-detil ajaran islam yang belum lumrah bagi orang awam sepertinya justru ia rasakan layaknya oase yang menyegarkan jiwa. Rafiqah sendiri terkagum-kagum dibuatnya.Bisikan batinnya selama ini benar bahwa Pram ibarat logam mulia yang terselubung lumpur dan noda-noda gelap. Sungguh benar, apa yang disabdakan oleh Rasulullah : "Manusia itu ibarat logam mulia (seperti emas dan perak) Yang terbaik dimasa jahiliyyah akan menjadi yang terbaik dimasa islam, jika mereka berilmu." (Diriwayatkan oleh Al Bukhari)

Diantara logam Pram menyerupai emas setiap kemuning emas dimasa jahiliyyah akan menjadi kilauan emas di dalam islam syaratnya harus ditempah secara matang digodok dikawah candradimuka dilembur ditungku api dibuang segala lapisan buruk yang menodai kemilaunya dan didalam islam caranya adalah dengan belajar dan menuntut ilmu. Perubahan pada arus dasar pemikiran dan pola berpikir Pram tentu berimbas pada banyak hal termasuk dunia bisnis yg digelutinya selama ini sekarang ia begitu teliti memikirkan langkah-langkah praktis yang sering ditempuhnya dalam memutar roda bisnisnya bagaimana yang kiranya membuat potensi haram makruh atau syubhat akan ia hindari sebisa mungkin setiap kali ia meragukan sebuah keputusan atau langkah tertentu dalam bertransaksi, bernegoisiasi atau penggarapannya ia pasti berkonsultasi dengan para ustadz yang ia kenal dan percayai. Sehingga tidak jarang ia membatalkan eksekusi sebuah proyek emas, hanya karena ia tak ingin terlibat memakan duit haram maka kehebohan pun bermunculan reaksi keras dari rekan-rekan bisnis yang tidak bisa menerima beberapa keputusan dan sikap Pram makin lama makin jelas namun tidak sedikit juga yang justru mengacungi jempol meski sebagian hanya bisa sekadar menyanjung namun bagi mereka perubahan pada diri Pram bukanlah hal yang buruk.

Islamisasi didunia bisnis tanah air toh mau tidak mau juga tetap bergulir tak sedikit pebisnis yang sudah mulai menyadari pentingnya menghindari cara-cara haram dan kembali kepanduan syariat. Fikih ekonomi islam mulai banyak dilirik kalangan pebisnis muslim jadi Pram tidak sendirian. Tapi bagaimanapun upaya bersih itu masih saja menghadapi arus besar yg memuat prinsip-prinsip dasar kapitalisme dan gaya bisnis moderen yang sarat dengan kerancuan dan sering kali berlawanan dengan prinsip-prinsip islam. Riba adalah bagian paling menonjol dari kerancuan itu selain menonjol ia adalah sisi terberat yang harus dihindari oleh orang yang sudah memiliki kesadaran iman seperti Pram. Hingga disitu Pram amat menyadari posisinya akan ada perseteruan hebat antara hasratnya untuk meneduhi diri dengan nilai-nilai kebenaran yang ia yakini dengan dilema kesulitan yang mulai terkuak lebar didepan matanya maka kapak peperangan itu pun bagai dihujamkan keperut bumi. Pram ikut merasakan getarannya.

  • KEMURKAAN PAK BROTO

Pak Broto marah besar, 2 bulan yang lalu putrinya menjadi penyebab kegagalan Pram mengambil tender pembangunan sebuah shoping centre. Bulan lalu hal nyaris sama terjadi meski dengan kapasitas lebih rendah dan kini proyek baru lokalisasi penampungan PSK yang cukup besar disebuah kota besar di Barat Indonesia gagal disabet.

"Kita bukan membuat lokasi pelacuran tapi memindahkan lokasi yang memang sudah ada lagi pula tanpa dilokali sasi para pelacuran itu justru lebih meresahkan masyarakat. Mereka akan menyebar dimana-mana upaya itu legal dan terprogram dengan baik dan tujuannya adalah menempatkan para pelacur yang berserakan dan meresahkan warga sekitar ditempat-tempat khusus yang dijaga ketat dan diberi aturan serta jam kerja yang terbatas jadi bukan proyek haram!" Pak Broto memuntahkan rasa marahnya dihadapan Pram dan Rafiqah, siang itu pada hari Ahad dirumah Pram sepulang mereka dari pengajian mingguan.

"Dan kamu Pram, betapa malunya aku melihatmu sekarang. Aku mengharapkanmu untuk bisa mengatasi cara berpikir putriku yang liar yang bisa membahayakan kelangsungan bisnis keluargaku tapi sekarang justru kamu menjadi laskarnya. Bagaimana bisa seorang suami terjerembab dibawah telapak kaki istrinya sendiri? Kamu kemanakan titelmu itu? Mana harga dirimu, Pram?"

Pram memandangi mertuanya yang memang ia tahu bertipikal keras. Bicaranya nyaris tak pernah perlahan untuk menawarkan minum saja kadang-kadang seperti orang marah. Bisa dibayangkan bila kini ia memang sedang marah betulan membuat bergidik saja namun karena mengerti karakternya, Pram justru menyingkapinya secara biasa-biasa saja.

"Justru selama ini, saya merasa tak memiliki harga diri Pak" ujar Pram halus, ia sangat menghormati pria tua itu apalagi pria tua yg kini menjadi mertuanya itu adalah yang paling berjasa bagi dirinya sehingga menemukan dambaan jiwa berhati emas seperti Rafiqah.

"Apa maksudmu?"

"Maaf Pak, kalau saya berbicara lancang. Selama ini saya berbisnis hanya mengandalkan kemampuan otak dan ego saya disisi lain saya mengabaikan aturan agama saya. Beruntung saya masih berkesempatan memperbaiki diri saya merasa selama ini justru saya tak memiliki harga diri, kenapa? Karena harga diri saya sebagai muslim bisa dibeli dengan keuntungan dunia yang begitu murah."

"Perbaikan apa yang kamu maksudkan Nak? Apa dengan mengikuti cara berpikir fanatik seperti yang ada diotak putriku ini?"

"Sekali lagi maaf pak, kenapa kita selama ini selalu membenci kata fanatik. apa salah dengan kefanatikan kalau maknanya adalah berpegang teguh pada kebenaran? Menurut saya yang tidak dibenarkan adalah bersikap fanatik terhadap satu pendapat dalam satu kasus yang kontroversial dikalangan para ahli tanpa menghormati pendapat orang lain sementara yang sedang saya coba pelihara adalah kebenaran, berusaha meninggalkan hal-hal yang haram dan syubhat adalah kebenaran yang tidak diperselisihkan oleh ulama manapun."

"Jadi,sekarang ini kamu merasa sedang berpegang teguh pada kebenaran. Ok, Pram kebenaran apakah itu? Adakah kebenaran yang ujung-ujungnya adalah kesengsaraan? Apa agama kita mengajarkan kita mengabaikan dunia? Mempersulit hal yang tanpa diatur-atur pun sudah sedemikian sulitnya? Setahuku, agama kita penuh toleransi."

"Setiap aturan islam pasti membuahkan kebahagiaan bukan kesengsaraan. Saat islam mengharamkan segala sesuatu tentu karena ada maslahat dibalik itu seperti orang tua melarang anaknya bermain api meski si anak tidak mengerti bahaya api orang tua tetap harus melarangnya manusia kadang tidak mengerti kenapa ini diharamkan dan itu tidak? Tapi setiap yang haram pasti berbahaya."

"Apa proyek lokalisasi PSK ini menurutmu haram? Kamu menganggap pemerintah telah membuat peraturan haram?"

"Tidak, tidak begitu pak. Pemerintah tidak melarang perizinan pabrik minuman keras, apa lantas kita menganggap minuman keras itu halal? Apalagi, diantara yang halal dan yang haram ada juga perkara yang disebut syubhat belum jelas perkara halal dan haramnya. Saya menganggap proyek lokalisasi ini minimal syubhat. Padahal banyak proyek lain yang sehat dan dijamin tidak memuat syubhat dan kerancuan. Kenapa saya harus mempertahankan proyek yang remang-remang ini padahal yang halal masih bertaburan?"

"Cara berpikirmu sudah sama persis dengan Rafiqah, aku yakin kau sendiri yang akan menyesali segala sikapmu itu...."

"Insya Allah, saya tidak akan menyesal kehilangan yang tidak diridhai oleh Allah asal saya dapat menggapai segala sesuatu yang menuai keridhaan-Nya...."

"Pram, saya hanya mengingatkan saja selama ini reputasimu sangat bagus kuakui posisiku terangkat juga karena banyak uluran tangan darimu semenjak dulu, aku mengagumimu sebagai entertainer muda berbakat yang sudah sukses di usia dini. Banyak kepercayaan diembankan kepundakmu. Kamu juga kukenal baik dan konsisten karena itu aku terobsesi menikahkanmu dengan putriku tapi aku tak pernah membayangkan engkau akan menjadi pecundang seperti ini kamu tahu Pram berapa banyak peluang bisnis yang akan kamu buang sia-sia hanya dengan alasan masih remang-remang atau malah haram. Padahal banyak pengusaha muslim juga terlibat dalam usaha-usaha dan proyek seperti itu."

"Terima kasih sudah mengingatkan pak, tapi saya juga punya prinsip yang tidak mungkin saya abaikan. Dahulu saya kurang bisa menelaah soal posisi halal dan haram karena kedangkalan pengetahuan saya terhadap ilmu-ilmu keislaman apalagi yang disebut syubhat sungguh belum saya kenal sama sekali belum ditambah kerapuhan iman saya rendahnya komitmen saya pada ajaran syariat sekarang sebagai muslim saya mulai diperkenalkan dengan aturan-aturan Al Quran dan sunnah Nabi termasuk dalam soal berdagang. Apakah salah bila saya lebih mengindahkan aturan agama ini ketimbang logika bisnis yang selama ini saya kuasai? Saya yakin, setiap aturan islam pasti bermasalahat. Riba diharamkan karena ada mudharat dibaliknya. Saya yakin itu seharusnya Bapak juga sangat bersyukur karena yang mengetuk kesadaran saya untuk merujuk kepada aturan dan ajaran islam adalah Putri Bapak sendiri. Rafiqah...."

Sejenak,mereka berdua senyap dikesunyian tak ada suara-suara keras tak ada perdebatan tapi bias marah diwajah Pak Broto masih terlihat jelas. Belum berkurang sedikitpun hanya semangatnya untuk memberi nasihat yang terlihat anjlog. Ia merasa seperti berhadapan dengan kembaran putrinya dalam pemikiran menghadapi putrinya yang baru lulusan SMU itu saja ia sering kepayahan sekarang ia harus berhadapan, beradu argumentasi dengan menantunya yang punya latar belakang akademis lebih baik dari putrinya. Ia bisa saja terus menghujat Pram menantunya itu tapi bila ia terpojok akibatnya akan sangat memalukan.

"Sebaiknya semangat keagamaanmu itu kamu curahkan untuk mengadakan acara-acara keagamaan saja, Pram. Saat berbisnis cobalah berkonsentrasi pada satu titik yang pasti engkau lebih memahaminya dariku, mengubah setiap peluang menjadi uang kamu sudah terlalu banyak menyia-nyiakan peluang akhir-akhir ini. Sudahlah, kami pamit dulu aku harus mengejar waktu ke Bogor ada meeting 2 jam lagi disana. Hati-hati dirumah, Pram. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati juga dijalan, Pak, Bu."

Mereka pun pergi, Bu Broto hanya bisa terdiam saja saat Pak Broto bangkit dari duduk, ia pun mengikuti suaminya itu keluar menuju mobil Corrola Altis yang diparkir dirumah Pram

  • KEHENDAK YANG MAHA KUASA

Segala perubahan yg terjadi di alam dunia ini selalu berada dibawah kehendak yang maha kuasa. Denting yang terjatuh, akar-akar halus yang baru tumbuh, kelopak bunga yang mulai mekar pagi ini kesemuanya selalu dalam kehendak-Nya. Senantiasa diketahui detil-detilnya oleh Allah yang Maha Mengetahui segalanya.

"Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib: tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang didaratan dan dilautan dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula),dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhmahfuz)." (AL-AN'AM:59)

Subhanaallah! Maha suci Allah, dari segala cacat dan kekurangan dari segala pikiran buruk dan prasangka jelek sebagian hamba terhadap-Nya. Takdir dan ketetapan Allah terkadang memang diselubungi misteri kegelapan. Ada hal yang terjadi dan sudah diperkirakan sebelumnya namun kadang ada hal yang terjadi jauh dari prekdiksi siapa pun dimuka bumi ini. Allah berhak menetapkan dan menakdirkan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya, meski sebagian orang merintih kepedihan karena tak mengerti apa-apa akan hikmah dibaliknya atau sebagian orang bergembira dan bersuka cita atas takdir itu padahal kepayahan hebat menanti dibelakangnya. Semuanya diselimuti misteri dan misteri kegelapan itulah yang justru menunjukan kekuasaan Allah yang tak terbatas yang tak dapat dicapai oleh pikiran, otak dan kecerdasan siapapun diantara makhluk-makhluk-Nya.

Ruh kehidupan dalam rumah tangga Pram dan Rafiqah makin menghembuskan nafas kesegaran. Sifat-sifat sejati yang begitu peka yang dimiliki oleh Rafiqah dan budi pekerti yang halus dan santun dari seorang Pramono Agung Setia kini benar-benar menyatu dalam keserasian yang menakjubkan. Bagi Pram, Rafiqah bagai bidadari yang dikirim dari surga menemani, melayani dan membantunya meniti jalan hidug menuju keridhaan yang Maha Kuasa. Bagi Rafiqah sendiri kini Pram layaknya penghuni surga yang mampir sejenak didunia.

Ia melihat pada diri Pram perubahan kearah kebaikan secara begitu cermat, ia menyaksikan sendiri aksi seorang hamba yang berhati emas yg masih berselabut kotoran namun amat merindukan kebenaran hakiki. Bagaimana si hamba memberontak begitu hebat dari kepungan ambisi, hasrat dan nafsu keduniaan juga ikatan kebiasaan, tradisi dari lingkungan yang memanjakannya dengan segala kesenangan duniawi, untuk menuju sifat sejatinya sebagai Hamba Allah yang sebenar-benarnya.Yang hidup dan mati hanya untuk mengabdi kepada-Nya. Sebuah kesadaran, yang secara teoritis nyaris setiap muslim mengetahuinya namun dalam praktik kehidugan justru lebih sering terabaikan begitu saja menuju ke titik itulah kini Pram berbenah diri.

Pagi itu Rafiqah melepas kepergian Pram seperti biasa namun kali ini Pram bergegas tanpa sempat menikmati sarapan pagi bersama istrinya. Saat itu pukul 06.00 pagi, Pram harus menghadiri pertemuan dengan mitra bisnisnya dikerawang tepat jam 07.30 tak ada waktu lagi. Perjalanan dikota jakarta dipagi hari tidak boleh dilakukan berlambat-lambat. Saat sudah bertemu dengan kerumuan massa yang akan berangkat bekerja yang akan pergi ke sekolah untuk memulai belajar dan sisanya adalah orang-orang yang akan mengais rezeki dengan berbagai jenis usaha dan pekerjaan, waktu bisa seolah-olah berputar lebih cepat jarak tempuh menjadi semakin lambat dilalui. Bila sudah demikian tak ada lagi jadwal yang bisa diharapkan akan dipenuhi tepat waktu. Pram segera pamit, setelah sejenak berbual-bual dengan istrinya.

Setelah ditinggal Pram, Rafiqah diserang kesepian yang tak lazim. Entah apa yang sebenarnya membuat hatinya diserang rasa sepi yang begitu menyengat. Semenjak Pram berubah aura kehidupan rumah tangganya memang selalu membiaskan keharmonisan dan romantisme yang mengigit jiwa. Sekarang setiap kali ditinggal sendirian oleh Pram karena harus berangkat kerja-sebuah rutinitas yang selama ini sudah terhapal diluar kepala- Rafiqah merasa kerinduan selalu membekap jiwanya lebih dalam. Padahal Pram nyaris tak pernah bermalam diluar rumah, dihotel misalnya, saat ia sedang ada aktivitas diluar kota. Ia selalu menyempatkan diri pulang kerumah namun tetap saja waktu yang sebentar itu cukup memproduksi limbah kerinduan di dada Rafiqah. Hal yang selama ini nyaris tak pernah ia rasakan.

Dan hari ini rasa rindu itu telah menguliti kepasrahannya. Ia nyaris melonjak dan memutuskan menyusul mas Pram, ke lokasi kerjanya. Belasan SMS telah ia send ke Pram. Sebagian telah dijawab Pram dengan sesingkat-singkatnya dan sebagian masih menanti jawaban. Ia segera sadar bahwa tindakannya itu bisa mengganggu konsentrasi Pram dalam bekerja tapi rasa rindu itu seperti tak henti-henti meneror jiwanya, hatinya nelangsa tapi Rafiqah tak ingin tenggelam dalam perasaannya yang mengaduk-aduk bongkahan hatinya itu. Diambilnya mushaf dan beberapa saat kemudian ia larut dalam bacaan Al Quran yang begitu syahdu. Ayat demi ayat dibacanya dan setiap huruf menghadiahkan kesegaran dalam batinnya. Rafiqah berusaha menenangkan jiwanya dengan kalam Ilahi yang seratus persen mukjizat. Rongga-rongga perasaannya yang kini sedang terisi dengan kerinduan terhadap Pram, Suami yang kini semakin dicintainya segera ia isi dengan kenikmatan merenungi ayat-ayat Allah tanda kekuasaan dari Yang Maha Lembut yang telah menciptakan cinta dalam hatinya terhadap Pram. Kini ia ingin pemilik cinta itulah yang lebih ia rindukan. Sehingga segala rasa rindu terhadap sesama manusia menjadi tak berarti apa-apa.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal...." (AL-ANFAL:2)

Ia begitu merindukan Pram karena ia sudah melihat sosok imam pada diri suaminya itu. Pram bahkan membuatnya semakin pasrah kepada Allah. Semakin bergairah menggali ajaran-ajaran Suci yang bersumber dari kitab-Nya dan sunnah-suna Rasul-Nya, ia ingin mengumandangkan doa Ibrahim bersama Pram,

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau...." (AL-BAQARAH:128)

Setengah jam sudah Rafiqah membaca Al Quran dengan bacaan tartil yang sedang-sedang saja kecepatannya, satu juz surat Al Baqarah sudah ia khatamkan, Hatinya sejuk pikirannya segar bagai tersiram air jernih pegunungan. Rasa rindu kepada Pram memang tidak serta merta lenyap namun kini tak lagi menggigit jiwanya menjadi sejenis rasa rindu yang menetramkan batin kerinduan kepada sesama manusia yang dilambari hasrat menggapai keridhaan Ilahi. Rindu berlapis rindu, cinta beralas cinta.

Beitulah tampaknya proses sederhana dari upaya mengubah setiap karunia menjadi sumber ibadah dan kepatuhan kepada Allah. Setiap karunia yang beraura keduniaan, dibaluri kepatuhan dan kecintaan kepada Yang Maha Pencipta sehingga terciptalah karunia sejati yang memberi keteduhan dengan konsep sederhana itu orang yang kaya tak akan gila menatap tumpukan harta tapi justru selalu dibalut hasrat suci: apa saja yang bisa kulakukan dengan harta ini agar aku semakin dekat kepada Allah? Orang yang cantik jelita atau tampan rupawan tak akan menjadi besar kepala lalu menganggap segala sesuatu dan siapa pun dapat takluk, akibat pengaruh kecantikan atau ketampanannya.

Kecintaan kepada manusia karena Allah akan bisa menciptakan ketundukan seperti saat Ibrahim diperintah oleh Allah agar menyembelih putra kesayangannya. Akan bisa menciptakan kepasrahan mutlak seperti sikap ismail saat menanggapi pertanyaan ayahnya, Ibrahim yang menerima titah dari Allah untuk menyembelihnya. Berbeda dengan cinta kasih yang hanya berbalut nafsu, hanya merasa cinta itu sejati bila dapat memberikan keuntungan. Cinta yang egois. Cinta yang mengharuskan yang dicintai untuk tunduk kepada yang mencintai atau sebaliknya yang mencintai harus tunduk pada yang dicimtai. Cinta yang hanya berakhir pada pemuasan nafsu birahi. Yang akan menciptakan prahara dalam jiwa bila harus meninggalkan atau ditinggalkan orang yang dicinta.

Usai membaca Al Quran Rafiqah mulai menekuni pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga seperti biasanya. Mereka memang sepakat untuk tak menggaji pembantu karena Rafiqah masih bisa mengerjakannya semua tugas seorang sendiri. Mereka belum dikaruniai momongan dan Rafiqah belum hamil. Sehingga tak banyak yang harus dilakukan selain membersihkan rumah menyapu dengan vacum cleaner, mengepel dan memasak.

Terkadang Pram turun tangan membantunya Pram sendiri ternyata seorang koki yang handal. Pengalamannya belajar secara mandiri di negeri orang membuatnya terbiasa mengolah masakan sendiri karena saat tinggal dilondon. Apabila rindu ingin mencicipi masakan khas Indonesia terutama Makassar tempat Pram dilahirkan ia harus memasaknya sendiri. Masakan semacam coto, ikan bakar khas Makasar, bubur sayur pedas dan sejenisnya sudah dapat diolahnya sendiri. Hasilnya spektakuler, teman-teman sesama mahasiswa Indonesia di Inggris amat menggemari masakannya. Maka dirumah pun Pram secara bergantian masak dengan istrinya Rafiqah. Berkuranglah sebagian dari jatah kesibukan sang Istri. Sehingga Rafiqah boleh tersenyum simpul, berbaring manis nyaris setiap pagi atau malam hari.

Steak buatan Pram adalah makanan malam paling spesial yang sangat diminati Rafiqah. Pram bisa membuat steak yang disajikan bersama roti yang dibuat sendiri dengan kuah berwarna hijau. Green souce itu adalah hasil olahan dari daun seledri yang dimasak bersama bawang putih, merica, sedikit ketumbar dan jintan manis, daun kemangi, garam, kaldu sapi dan limonade lalu diblender halus diatas roti yang hangat diletakkan keju pipih lalu steak yang sudah dibakar matang baru disiram dengan kuah hijau spesial. Rasanya sangat nikmat kata Pram, itu salah 1 jenis masakan khas pedalaman Brazil. Pram mmpelajarinya dari salah seorang rekan belajarnya di Oxford University. Masakan itu terlihat sederhana namun untuk mengolahnya dibutuhkan ketelitian bila tidak sering kali bau bawang putih menyembur dan merusak aromanya. Seledri tidak boleh direbus terlalu lama karena cita rasanya akan berkurang banyak, saat masak lempengan keju juga tak boleh langsung diletakkan terutama jenis keju yang bertekstur lembut karena ia akan mencair dan merusak tampilan.

Khusus untuk ketumbar dan jintan manis atau jintan kasar (adas pulowaras), lebih sempurna bila disangrai atau digoreng tanpa minyak terlebih dahulu agar aroma lebih harum dan nendang. Saat bersantap dengan hidangan itu, Rafiqah sendiri sering menghabiskan dua porsi sekaligus padahal rotinya dibuat sendiri dengan menggunakan oven rumah dengan campuran tepung terigu dan tepung gandum murni. Tekstur lebih keras dan kasar dibandingan roti biasa lebih padat dan lebih mengenyangkan. Wuih, nikmatnya membayangkan bersantap malam seperti itu. Santap malam yang diselimuti suasana yang penuh keromantisan sungguh menggoda selera.

Saat itu, semua pekerjaan rumah selesai dikerjakan oleh Rafikah. Ia masih duduk diatas ranjang kamarnya membayangkan suasana indah bersama suaminya. Membayangkan tingkah kocak suaminya yang belakangan ini makin terasa auranya. Teringat akan gaya suaminya yang bila mengolah masakan, membuat akrobat membolak-balikkan makanan khas cheff profesional. Hmm, indahnya. Kringgg!! Tiba-tiba telepon rumah berdering, Rafiqah memang senang menyetting telepon rumahnya dengan suara klasik seperti itu. Lebih mudah didengar bila kebetulan ia sedang berada didapur atau kamar mandi. Rafiqah bergegas keruang tamu. Pesawat telepon memang diletakkan disana diatas meja bar. Bar yang kini sepi dari minuman beralkohol tapi masih setia menemani Rafiqah untuk menjamu tamu-tamu Pram.

"Maaf, benar ini rumah pak Pramono Agung Setia," jerit suara diseberang.

"Benar, saya istrinya. Pram sedang tidak dirumah."

"Ya, kami tahu. Kami justru sedang ingin mengabarkan tentang dia."

Dukkk.... Jantung Rafiqah berdegup kencang...

"Memangnya ada apa dengan Dia? Dia kecelakaan?"

"Tidak bu, ia tidak mengalami kecelakaan sedikit pun tapi ia baru dibawa oleh temannya dari lokasi kerjanya dikerawangan baru 5 menit yang lalu sekarang ia dirawat di Rumah sakit Karawaci...."

Degub jantung Rafiqah makin kencang.

"Ia tidak apa-apa kan? Ada apa sebenarnya?" tanya Rafiqah resah.

"Tenang Bu,tadi saat sedang meeting dengan beberapa rekannya. Pak Pram tiba-tiba merasa pusing, mau muntah, dada dan lambungnya terasa sakit suhu tubuhnya dingin sekali. Ia nyaris pingsan tapi Alhamdulillah Ia masih kuat bertahan tapi meeting dibubarkan. Seorang temannya Indra segera melarikannya kerumah sakit khawatir kalau terjadi apa-apa dengannya."

"Saya diminta datang kesana?"

"Pak Pram tidak bilang begitu tapi ada baiknya Ibu datang kemari biar segalanya jelas."

"Ya, saya segera kesana."

Rafiqah bergegas kekamarnya, Ia mengganti baju terusan biasa yang ia kenakan dengan jubah panjang, jilbab lebar hingga kebawah lututnya lalu ia beranjak kegarasi mengeluarkan mobil avanza yang biasanya hanya sesekali digunakan. Pram lebih menyukai sedan BMW terbaru yang ia punya untuk mengantarnya kemana ia perlu. Ini mobil yang teronggok sedih karena dianak tirikan sekarang ia boleh tersenyum karena tugas penting menantinya didepan.

"Mas, kamu baik-baik saja kan?" sapa Rafiqah saat masuk kekamar dimana suaminya dirawat.

"Rafiqah, jangan bercanda dong. Aku berbaring disini tentu karena tidak baik-baik saja." seloroh Pram, sambil tersenyum.

"Mas, aku serius. Mas gak kenapa-napa kan?" cemas Rafiqah.

"Sementara ini belum ada kepastian aku hanya merasa perutku kembung dan ada rasa nyeri menggigit didadaku mungkin masuk angin tapi tadi sesampainya dirumah sakit selesai diperiksa tensi darah, aku dirontgen lalu aku diberi obat penenang karena sakit di dadaku semakin menghebat baru 5 menit, Aku terjaga."

"Ya, mudah-mudahan tidak ada apa-apa."

"Insya Allah tak ada apa-apa. Kamu kok jadi cemas gitu sih, gak biasa-biasanya."

"Mas, kapan sih aku tidak cemas kalau melihatmu sakit?"

"Tapi kecemasanmu terlihat kebih kentara sekarang...''

Pembicaraan mereka terhenti karena seorang pria berusia 30 an tampaknya seorang dokter dirumah sakit itu meminta izin masuk.Rafiqah mempersilahkannya.

"Bisa bicara sebentar Pak Pram?"

"Silahkan Dok, ada apa?"

"Tapi saya perlu berbicara pribadi, Pak. Mungkin nyonya bisa keluar sebentar..."

"Tak perlu..." Cegah Pram.

"Dia istriku, Dok. Bicara saja disini tak apa-apa"

"Ok, kalau Bapak maunya begitu. Begini Pak, sebelumnya saya mohon maaf..."

Dahi Rafiqah berkerenyut sementara Pram terlihat biasa saja.

"Apa Pak Pram sering melakukan check up secara rutin?"

"Setahu saya cukup jarang tapi terakhir kali saya check up 4 bulan yang lalu belum terlalu lama."

"Hasilnya bagaimana waktu itu?"

"Ya normal-normal saja, Dok. Kebetulan saya bukan perokok."

"Begini Pak..." Dokter muda itu tak segera melanjutkan ucapannya. Ia memandang Rafiqah dan Pram secara bergantian seolah-olah meminta izin mereka untuk menyampaikan maksudnya.

"Dari hasil rontgen dan test lainnya tadi diduga keras (bahasa halus dari diyakini) bahwa anda mengindap kanker paru-paru stadium 3....."

Rafiqah kaget bukan kepalang, mata Pram mendelik ia belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Ulangi lagi, Dok? Kurang jelas." pintanya.

"Dari hasil rontgen dan test lainnya tadi diduga keras bahwa anda sudah mengindap kanker paru-paru stadium 3..." tegasnya dengan suara lebih keras.

Rafiqah terhenyak, Pram tak kalah kagetnya.

"Tak mungkin... Tak mungkin, Dok. Bagaimana bisa demikian? Hasil check up 4 bulan yang lalu saya sehat-sehat saja?"

"Saya tak menyalahkan hasil test itu tapi bisa jadi ada kekurang telitian dalam menganalisa hasil rontgen anda kami sudah periksa dan analisa secara saksama hasilnya anda positif mengindap kanker yang membuat kami heran stadiumnya sudah begitu tinggi dan kenapa baru diketahui sekarang? Bapak orang kaya dan bisa melakukan check up bila perlu seminggu sekali...."

"Dan, tidak itu saja," lanjut dokter tersebut.

"Penyakit kanker Bapak sudah menyebabkan komplikasi pada lambung dan usus. Apa selama ini Bapak tidak merasakan kejanggalan pada tubuh Bapak?"

"Entahlah,Dok saya bingung." Pram mengurut-urut bagian atas hidungnya dilekukan tulang antara kedua biji matanya tiba-tiba ia merasa pusing bukan main.

"Sesak dibagian dada memang sering saya rasakan tapi tidak terlalu mengganggu prediksi kanker bagi saya terlalu jauh kalau hanya karena gejala-gejala seperti itu...."

"Seharusnya tidak begitu, ada orang yang hanya sering merasakan nyeri ringan dibagian belakang ternyata ada tumor mendekam disitu, ada orang yang merasakan pusing hebat sekali saja dan beberapa hari kemudian mengalami kebutaan total dikedua belah matanya. Gejala sekecil apapun, harus diwaspadai." jelas dokter itu dengan wajah berkerut.

"Lalu, gimana Dok?" apa kondisi saya sudah sangat berbahaya?"

"Bahaya kanker tak hanya diperhitungkan pada stadiumnya saja tapi juga pada efek komplikatif yang ditimbulkan pada organ-organ selain paru-paru yang mengindap kanker saya juga mengkhawatirkan lambung dan usus besar Bapak. Bapak harus Bedrest minimal satu bulan untuk mengatasi luka lambung dan usus sambil kita pantau apakah penyakit dilambung itu murni efek atau justru akibat penyebaran sel-sel kankernya tapi tenang saja, Pak asal Bapak kooperatif semua akan baik-baik saja...."

Rafiqah dan Pram tiba-tiba saja lemas gemuruh bahagia selama 2 bulan ini seolah-olah menuntut endingnya sekarang juga mereka dipaksa untuk kembali bermuram durja....

"Adinda, maafkan aku..."

"Tak ada yang perlu dimaafkan, Mas."

"Heran, kenapa selama ini penyakit itu tidak terdeteksi sama sekali? Mungkinkah penyakit kanker baru diketahui sedemikian parah?"

"Segalanya mungkin saja, Mas. Sabar, mungkin Allah baru hendak membuka kenyataan itu dihadapanmu setelah engkau siap menerimanya..." lirih Rafiqah.

"Mas,ujian itu datang selaras dengan pertumbuhan imam didadamu..."

"Cobaan terhadap seseorang hamba akan terus mengalir deras hingga ia dibiarkan berjalan diatas bumi dan tanpa kesalahan sedikitpun pada dirinya." (Sanadnya shahih ditakhrij At-Tirmidzi,)

"Akahkan aku keluar dari dunia ini sebagai Hamba yang terhapus segala dosa-dosa-nya? Ya, Rabb, betapa aku merindukan itu.." ungkap Pram sendu

  • LABBAIKALLAHUMMA LABBAIK !

Usia pernikahan Rafiqah dan Pram sudah 4,5 bulan. Itu masa2 dimana sekian banyak hal-hal tak terduga terjadi. Hari ini adalah puncak ketidakterdugaan itu. Pram dipastikan telah mengindap salah satu penyakit paling berbahaya didunia saat ini, kanker. Betapa ngerinya dan yang lebih mengerikan sudah sampai stadium 3 dan itu sama sekali belum pernah terdeteksi sebelumnya.

Saat dokter keluar dari kamar tersebut Rafiqah menangis tersedu-sedu kemerjap rindu dari awal pagi hari ini ternyata beralasan. Ia tak hanya merasa rindu terhadap Pram karena sosoknya kian hari kian berbeda makin baik perilakunya makin dekat kepada Allah namun kerinduan itu makin bergemuruh akibat firasat akan terjadinya musibah dan cobaan ini. Betapa sedih hatinya. Justru Pram yang lebih dahulu membelai kepala Rafiqah yang tertutup jilbab tebal. Ia menyabarkan istrinya, alih-alih dari sang istri yang seharusnya lebih dahulu menyabarkannya.

Ia meminta Rafiqah menenangkan jiwanya, menyerahkan segalanya kepada Allah. Lalu Pram memflashback kisah hidupnya kepada Rafiqah. Tampaknya meski sangat mengagetkan, munculnya penyakit itu dalam dadanya bukanlah suatu hal yang aneh. Pram seolah pasrah menerima itu sebagai teguran dari Rabb nya.

5 tahun yang lalu saat Pram masih kuliah di Oxford ia mulai mengenal minuman keras, ia memang dari keluarga modern namun jangankan minuman keras, merokok pun ia tidak pernah. Ya, baru dinegeri itu dinegeri seberang godaan pergaulan ia rasakan begitu hebat. Beruntung Pram tak terjebak kehidupan free sex khas kaum Eropa dan Barat. Namun untuk menghindari menenggak minuman keras meski secawan 2 cawan setiap kali ada pertemuan sungguh nyaris mustahil. Sekali 2 kali ia memang bisa menolak tapi lucu bila terus terusan begitu akhirnya ia mulai terbiasa mengkonsumsinya tak hanya terbiasa ia bahkan kecanduan tak sekadar kecanduan ia bahkan akhirnya dikenal sebagai druken master, raja pemabuk. Teman-teman dari Indonesia bahkan sempat jijik bergaul akrab dengannya.

Kesukaannya pada minuman keras dianggap sudah menyentuh level menggelisahkan. Bagi orang indonesia ia sudah rajanya pemabuk karena sehari ia setidaknya 2-3 kali mengalami mabuk itu berlangsung terus hingga 2 tahun ditahun terakhirnya ia bahkan sempat mencicipi dan ketagihan mengkonsumsi ganja dan opium. Kehidupannya pun berantakan. Ia lulus dengan prestasi bagus tapi jauh dibawah standar yang seharusnya bisa ia capai. Hanya 2 bulan sebelum pulang ketanah air ia tersadar, ia merasa seolah-olah baru bangun dari tidur.

Secara tidak sengaja salah seorang rekannya mengajaknya shalat jumat disebuah masjid di islamic centre dilondon. DIsitu untuk pertama kali semenjak beberapa tahun terakhir ia kembali shalat. Sebelum shalat ia mendengarkan ceramah dalam bahasa inggris yang begitu memikat, temanya sangat sederhana dan tidak mengejutkan : kematian. Tapi bahasanya mengalun syahdu, penyitiran ayat-ayat dan haditsnya yang pas, penerjemahannya sempurna membuat hatinya bagai teraduk-aduk sejuta haru menyesak rongga dadanya. Ia menangis.

Semenjak itu, Pram berhenti mengkonsumsi miras dan sampai kembali ketanah air dan hingga pernikahannya dengan Rafiqah, ia sudah betul-betul terbebas dari mengkonsumsi miras atau narkoba. Ia merasa setelah berhenti segalanya usai tapi waktu 2 tahun bercengkerama dengan miras dan sedikit narkoba ternyata cukup untuk mengobrak-abrik sel-sel paru-paru-nya. Penyakit kanker itu nyaris dipastikan akibat kecanduan mengkonsumsi miras mengingat itu Pram kembali menitikan air mata.

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini...."

"Bersyukurlah Mas, Allah masih berkenan memberimu kesempatan bertobat, betapa banyak orang yang terjebak maksiat dan mati dalam genggaman maksiat tersebut.... Yang terpenting, jagalah ketulusan Mas, karena sebagian ulama bijak menyatakan : "Barang siapa yang berkeinginan menutup usianya dengan kebajikan hendaknya ia memperbaiki niatnya." (JAMI'UL 'ULUM WAL HIKAM 1:13)

Tapi juga mitra bisnis yang amat ia sukai, semenjak hubungan bisnisnya dengan beberapa rekan dekat termasuk Pak Budi terputus tanpa ampun. Ya, semua akibat perubahan-perubahan itu namun Pram tak secuil pun menyesalinya.

Setelah itu Pram dirawat dirumah itu pun hanya beberapa hari,ia kembali menjalankan roda bisnisnya meski hanya dilokasi-lokasi dalam kota saja dan itu pun tidak lama-lama. Hingga setengah bulan kemudian, satu bulan setelah Pram dilarikan ke rumah sakit Pram kembali tumbang, ia nyaris pingsan ditengah jalan beruntung Indra yang mengemudikan mobilnya. Pram kebetulan belum memiliki sopir karena ia sendiri gemar mengemudikan mobil seorang diri tapi sekarang ia terpaksa menyerahkan posisi menyenangkan itu kepada Indra karena kondisi darurat Pram dibawa pulang karena jarak kerumahnya hanya tinggal 500 meter. Dokter segera dipanggil, Pram tidak jatuh pingsan ia masih sadar namun kesadarannya terlihat sayup-sayup karena pandangan matanya kuyu tak bersemangat. Saat itulah ia meminta Rafiqah tetap menemaninya. Disisinya persis.

"Adinda,maukah engkau mendengarkan pesanku? Sedikit saja."

"Tentu mau, Mas. ada apakah?"

"Adinda, betulkah adinda mencintaiku?"

"Aduh, Mas. perlukah itu ditanyakan? Cintaku kepadamu sekarang berlipat-lipat ganda setelah Mas mengubah gaya hidup mas aku sudah seratus persen membaktikan diriku kepadamu sebagai istri yang siap mematuhimu selama itu dalam kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya."

"Jawab saja Adinda, apakah engkau mencintaiku?"

"Aku sangat mencintaimu, Mas karena-Nya cintaku padamu berlabuh dalam hati ini..."

"Tuluskah cintamu itu, Adinda?"

"Cinta yang tulus adalah yang dilambari rasa cinta kepada Allah selain itu tak lebih dari cinta berbalut nafsu. Cintaku, Insya Allah tulus Mas."

"Seperti apakah, aku ini dimatamu?"

"Kamu seperti pria angkuh yang berganti kulit menjadi pemuda paling santun yang pernah aku kenal, yang paling aku kagumi."

"Menyesalkah engkau pernah aku nikahi, Adinda."

"Ya, Mas."

"Engkau menyesal, Adinda?"

"Ya, aku menyesal kenapa tidak dari sebelumnya engkau menikahiku...."

Pram,tersenyum renyah senyum terindah yang pernah dilihat oleh Rafiqah dari suaminya itu.

"Alhamdulillah,aku juga sangat mencintaimu Adinda. Bagiku engkau bukan hanya istri tapi juga teman, kekasih, pacar, pendamping, teman memasak...."

"Sudahlah Mas, jangan membuatku bersedih...."

"Aku jujur Adinda."

"Mas, beristirahatlah."

"Tidak Adinda,selama aku masih bisa berbicara..." Pram diam sejenak lalu melanjutkan bicaranya.

"Kalau engkau betul-betul mencitaiku maukah engkau mengabulkan permohonanku bila aku sudah tiada. Satu permohonan saja"

"Jangan berkata begitu, Mas. Mas membuatku merinding saja."

"Adinda, tolonglah jawab pertanyaanku tadi, maukah engkau mengabulkan permohonanku bila aku sudah tiada...."

"Selama itu tidak melanggar syariat tentu aku mau, Mas."

"Tidak, ini permohonan yang sepenuhnya bersendi syariat, Adinda. Bila aku tiada aku mohon engkau mau segera menikah dengan pria yang kamu sukai, yang kamu cintai karena agama dan keluhuran akhlaknya..."

"Mas, sudahlah. Pria itu adalah kamu Mas. Aku mencintaimu sepenuh hati...."

"Aku tahu itu Adinda, tapi aku manusia adakah manusia yang dapat menolak datangnya kematian? Bila aku mati, lekaslah menikah dengan pria lain selain diriku ini yang kamu sukai karena agamanya...."

"Haruskah itu Mas?"

"Adinda, berpikirlah dengan jernih engkau masih muda setahuku belum genap 20 tahun kalau aku tiada tente engkau tak mungkin menjanda seumur hidupmu, bukan? Kita tidak tahu pasti akan usiamu bisa saja engkau sampai berusia 70 atau bahkan lebih. Apakah selama itu engkau tetap menjanda? Itu tidak benar menurut agama karena itu artinya engkau mengabaikan kebutuhanmu sebagai manusia itu rahbaaniyyah, hidup kependetaan yang dikecam dalam islam...."

Rafiqah terharu mendengarnya, Pram sudah tak ubahnya seorang Ustadz. Tidak, Ia memang seorang Ustadz hatinya memang hati seorang Ustadz hati seorang juru dakwah.

"Dan aku ingin, engkau tidak usah menunda-nunda menikah sesudah kematianku..."

"Apakah harus begitu, Mas?"

"Ya, Engkau tak boleh terbawa emosi dan kesedihanku. Tak boleh terlalu sentimentil bila engkau bisa melakukan kebajikan dengan lekas untuk apa pula engkau menundanya? Kecuali bila belum ada pria muslim yang engkau minati yang menurutmu sangat baik agamanya dan sebagai janda engkau memiliki hak pilih lebih kuat daripada saat posisimu masih sebagai gadis dahulu..."

"Aku tak tega membicarakan hal ini, Mas. Seolah-olah kematianmu sudah pasti segera datang, usia itu di tangan Allah,Mas."

"Betul, Adinda tapi aku toh boleh saja berpesan kepadamu dan kumohon anggukkanlah kepalamu sebagai tanda setuju. Jangan memohon kepadaku untuk engkau menolaknya."

Rafiqah terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya tampaknya Pram tahu bahwa ia tak akan mungkin sanggup mengiyakan permohonannya itu secara lisan. Cairan bening mengalir deras dari ujung sepasang matanya, Rafiqah terisak.

"Alhamdulillah. Adinda, tolong ambilkan mushaf Al Quran aku ingin berlatih membacanya lagi bacaan Quranku masih payah sekali...."

Rafiqah mengambil mushaf yang memang selalu diletakkan disamping kanan suaminya disamping pembaringannya. Pram begitu tergila-gila membaca Al Quran, ia membacanya seperti orang kehausan dan menyedot habis isi segelas minuman dingin ditengah terik matahari.Itulah yg paling disukainya akhir-akhir ini bahkan disaat kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan seperti sekarang ini. Alunan syahdu itu melantun indah. Tak benar, bila bacaannya masih payah 2 bulan setengah belajar membaca Al Quran betul-betul telah menyulapnya menjadi Qari itu hasil yang fantastic. Bacaannya syahdu meski suaranya pelan dan kadang terbata-bata tajwidnya bagus makhraj hurufnya pas suaranya juga tergolong merdu empuk dan renyah suara dan irama tartil yg dipilihnya adalah milik Syaikh Al Mahtrud lembut dan memanjakan hati apalagi ditengah kesyahduan ini begitu menyentil hati menggugah jiwa.

5 menit berlalu dokter belum juga datang lantunan ayat-ayat suci itu kian lama kian melemah. Rafiqah memintanya berhenti tapi Pram menggelengkan kepala ia tetap membaca ayat-ayat yang dicintainya itu hingga suaranya melemah hingga bacaan Al Quran itu tiba-tiba menjadi tahlil, LAA ILAAHA ILALLAH hingga tahlil itu terulang berkali-kali lalu tanpa kata lain suara itu terhenti dikeheningan kamar yang begitu teduh, Pram betul-betul telah pergi. Tangis Rafiqah meledak.

Dokter datang namun tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menatapi seorang wanita muda yang menangis tersedu-sedu melepas kepergian suaminya. Saat rasa cinta berbalut kasih sedang membuncah terhadapnya. Saat Pram betul-betul telah hadir sebagai suami yang semenjak dahulu ia idam-idamkan. Sayang waktunya begitu singkat tapi yang singkat itu telah meninggalkan kesan indah yang sulit untuk dilupakan begitu saja. Pram telah pergi. Itu yang kini menjadi 'keyakinan (dalam bahasa agama kadang bermakna mati 'beribadahlah kepada Rabb mu hingga datang kepadamu keyakinan yakni kematian'' yang tak terbantahkan. Ia telah menyambut panggilan yang Maha kuasa. LABBAIKALLAHUMMA LABBAIK.....

"Maka apabila telah tiba waktu (ajal yg ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya."(AN-NAHL:61)

  • MENGUBAH CATATAN HIDUP

''Aku nikahkan engkau dengan saudariku, Rafiqah binti Broto Susilo dengan mahar seperangkat alat shalat, tunai...." ungkap Hendra kakak kandung Rafiqah.

"Aku terima menikahi saudarimu Rafiqah binti Broto susilo dengan mahar tersebut, tunai." lirih Aziz.

Pernikahan itu berlangsung 4 bulan 11 hari setelah wafatnya Pramono Agung setia mantan suami Rafiqah. Papanya Pak Broto enggan menjadi wali pernikahannya tapi ia tidak menolak, ia memberi izin namun bukan restunya. Menghadiri walimah atau resepsi pernikahannya saja ia tak mau untuk menghalanginya ia tak punya jalan lagi mengajukan calon lain justru akan menenggelamkannya dalam trauma akhirnya Pak Broto memilih diam menggerutu.

Pernikahan dilangsungkan dirumah Pram yang kini sudah menjadi milik Rafiqah akhirnya kakak kandung Rafiqah, Hendra bersedia menjadi walinya menggantikan posisi Papanya setelah dibujuk berkali-kali dan pernikahan itu pun berlangsung sederhana jauh lebih sederhana dari pernikahan pertama Rafiqah dengan Pram mantan suami yang kini sudah berpindah alam kehidupan. Aziz sendiri datang dengan Pamannya, Ayahnya baru meninggal dunia 6 bulan yang lalu, Ibunya bahkan sudah lebih dahulu wafat lebih dari satu tahun yang lalu sehingga ia meminta pamannya Pak Harsa untuk menemaninya dalam pernikahan tersebut.

1 minggu selepas kepergian suaminya, Heryani kembali datang berkunjung kabar tentang wafatnya Pram baru ia dengar 2 hari yang lalu saat itu tanpa maksud apa-apa. Heryani mengirimkan sms kepadanya dan menanyakan kabarnya dan kabar Pram, saat itulah Rafiqah memberitahu semuanya...

Pagi itu Heryani datang seorang diri seperti sebelumnya rencana sore harinya ia akan pergi kesimpang matraman mengikuti kuliah sore. Pagi itu ia ingin berjumpa dengan sahabat semasa kecilnya Rafiqah ia ingin mengajak sahabatnya itu menghibur diri selain itu ada tujuan spesial yang terselip dibenaknya. Perjumpaan diawali dengan peluk tangis Rafiqah menumpahkan segala kesedihan dipelukan sahabat dan teman bermain terbaik yang ia miliki semenjak kecil, Heryani. Dari Ayah gadis inilah ia banyak menimba ilmu-ilmu islam, gadis ini juga yang terus mendorongnya untuk berjilbab dan bersama gadis ini ia menghabiskan masa-masa kecil dan masa remaja yang indah dalam suasa persahabatan bahkan persaudaraan keislaman yang kental. Hal yang tak dirasakan saat ia berada dirumah sekalipun bersama keluarganya.

"Tabahkan hatimu, Iqah." Heryani menyapa sahabatnya itu dengan nickname yang akrab dengan nya semenjak dulu, Iqah.

"Berharaplah pahala yang sebesar-besarnya dari Allah. Bersyukurlah Iqah kamu telah menjadi jalan bagi Pram untuk menemukan petunjuk Allah. Insya Allah, Ia husnul khatimah." hibur Heryani.

"Allahumma Aamiin (Ya Allah,kabulkanlah doa itu). Tumben kamu kemari Her. Waktu takziah (kunjungan kepada orang yg ditinggal mati keluarga untuk menghibur dan membesarkan hatinya. Hal ini termasuk dalam sunnah Rasulullah) kan cuma 3 hari." ujar Rafiqah.

"Pokoknya, aku rindu sama kamu selain itu juga ingin berbagi nasihat dan pengalaman seperti biasa dan yang tidak kalah penting aku ingin mengetahui kondisimu lalu memikirkan bersama masa depanmu."

"Maksudmu Her?"

"Sudahlah, Iqah kamu pasti sudah ngerti."

"Wallahi (Demi Allah), aku gak ngerti Her."

"Begini, Iqah kepergian suamimu adalah takdir yang tidak bisa kita tolak tak mungkin kita hindari tapi kehidupanmu akan terus berjalan sampai waktu yang ditentukan oleh Allah.Apa kamu berniat menjada seterusnya?"

"Ya, enggaklah Her, tapi suamiku baru saja pergi apa aku pantas memikirkan hal itu?"

"Apa yg membuatmu berpikir bahwa itu tidak pantas? Cintamu kepada Pram? Kenanganmu itu? Cintamu kepada Pram akan abadi, Iqah. Itu cinta antara 2 insan karena Allah, sebagai suami istri atau bukan bila kalian tulus saling mencintai dijalan Allah pasti kalian akan mendapatkan kebahagiaan diakhirat kelak sementara sebagai muslimah yg taat kamu harus menjalankan sunnah Nabi untuk menikah dan bersuami terlebih bagimu sebagai janda kamu tentu ingat sabda Nabi bahwa ada 3 hal yang harus dilakukan segera salah satunya menikah bagi seorang janda yang ingin menyelamatkan kehormatannya..."

"Hai Ali ! Ada 3 hal yang tidak boleh kalian tunda2 : shalat bila sudah masuk waktu, Jenazah bila sudah siap dikebumikan dan seorang janda bila sudah mendapatkan calon jodohnya..." (Lihat musnad Imam Ahmad II:293 dari hadits Ali bin Abi Thalib)

"Aku tahu itu Her, pendapatmu seperti juga pendapat suamiku. Aku memgakuinya sekarang pun aku sedang berusaha menguatkan hatiku untuk itu lalu menanti jodoh yang layak buatku dan aku layak buatnya."

Lalu Rafiqah menceritakan pesan terakhir Pram suaminya sebelum ia menghembuskan nafas terakhir pesan yang begitu berat baginya tapi tak mungkin ia abaikan apalagi itu selaras dengan kehendak syariat."

"Masya Allah! Sungguh aku tak mengira hati Pram sejernih itu begitu hebat perubahan pada dirinya, keyakinanmu dulu terhadapnya itu sungguh beralasan, Iqah. Pram betul-betul seperti yang engkau duga, kalian berdua sama-sama beruntung kalau engkau betul-betul mencintainya, menghormati dan memuliakannya kamu harus menjalankan pesan itu dan aku datang juga untuk tujuan itu."

"Insya Allah, Her." lirih Rafiqah.

"Baiklah, Iqah kalau kamu sudah siap untuk itu sekarang sudah ada pria yang menantimu mewujudkan pesan itu."

"Maksudmu?"

"Aziz."


BERSAMBUNG


NB : www.janganjadimuslimahnyebelin.facebook.com

»»  READ MORE...