Minggu, 30 Maret 2014

Bumi Cinta (Part 3)

Ayyas memejamkan kedua matanya. Dirinya benar-benar diuji oleh Doktor Anastasia. Ini
semacam ujian lisan. Ia harus menjawab dengan baik. Ia tidak mau Doktor Anastasia bercerita kepada Profesor Tomskii bahwa dirinya bodoh, buta tentang segala hal yang berkaitan dengan
ilmu sejarah. Ia harus menunjukkan bahwa dirinya sebenarnya tidak perlu diuji lagi dengan
pertanyaan-pertanyaan sepele seperti itu. Sudah saatnya dirinya diajak berdialog sejajar dengan
siapa pun. Maka ia tidak mau menjawab seperti anak SD ketika ditanya oleh gurunya, jawabannya seperti hafalan, persis seperti yang tertulis dalam buku teks. Ia akan menjawab pertanyaan itu dengan cara yang sedikit berbeda. Dengan bahasa Inggris yang fasih, Ayyas berkata tenang,
»»  READ MORE...

Bumi Cinta (Part 2)

Dua hari penuh Ayyas istirahat di apartemennya. Ia agak demam. Ingin sekali ia segera
bisa jalan-jalan menelusuri Moskwa dan menyentuh butiran-butiran salju yang turun dari
langit. Ia juga ingin segera melihat keindahan Lapangan Merah yang sangat terkenal itu. Ia
memilih mengurungkan keinginannya. Lebih baik ia istirahat sampai benar-benar sentosa, daripada nekat kemudian jatuh sakit yang bisa membuat rencana yang telah disusunnya berantakan semua.
Ia harus berterima kasih kepada Devid yang membelikan persediaan makanan yang cukup.
Dua belas bungkus mie instan buatan Vietnam, sekilo beras, satu kilo telur, empat kaleng ikan
sarden, sebotol garam, saus tomat, minyak goreng dan barang-barang yang dipesannya.
Devid juga membelikan panci yang bisa ia gunakan untuk masak. Jadi ia tidak perlu keluar
apartemen.
»»  READ MORE...

Setelah Kau Menikahiku (Part 4)

“Kamu jangan gitu dong Pit. Bukannya aku tega. Ini murni urusan pekerjaan. Harusnya bosku yang bertemu dengan klien di sana. Tapi tadi bos mendadak tidak bisa dan dia mau aku yang menggantikannya. Dia cuma percaya sama aku buat menggantikannya mengingat proyek ini sangat penting bagi perusahaan kami. Mungkin selama hampir dua bulanan. Aku sudah telpon Ibu. Aku minta tolong beliau agar menjagamu selama aku keluar kota.”
“Lagian gak lama-lama amat kok. Kamu pasti senang ditemani Ibu di rumah. Kalian bisa sharing tentang pernak-pernik kewanitaan dan persiapan melahirkan tanpa harus diikut campuri oleh laki-laki. Ibu tentu lebih tahu tentang itu.”
»»  READ MORE...

Setelah Kau Menikahiku (Part 3)

"Maaf, Pit," bisiknya.
"Aku tidak bisa menangis di depan kakak-kakakku. Mereka...."
"Aku tahu. Tidak apa-apa," tanganku masih gemetar saat aku mengelus rambutnya.
"Aku buatkan teh panas, nanti kau minum, ya."
Ia mengangguk dan aku beranjak meninggalkannya. Ketika aku kembali, ia kelihatan agak lebih baik.
Dihirupnya sedikit teh yang kubawa. Wajahnya tidak lagi pucat setelah itu. Ketika aku merapikan kembali selimutnya, ia memegang tanganku.
"Terima kasih."
»»  READ MORE...

Setelah Kau Menikahiku (Part 2)

"Kau kekanak-kanakan!"
"Dan kau, Tuan Putri, kau egois!"
Ia menyambar tasnya dan melangkah lebar-lebar keluar lewat pintu samping.
Aku masuk ke ruang makan dan membanting pintu di belakangku. Seperti inikah perasaan para istri setelah bertengkar dengan suaminya? Dadaku sesak dan kepalaku sakit. Aku benci menjadi cengeng, tapi air mata kecewa mulai membuat mataku pedih. Aku sama sekali tidak mengira sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu Idan melakukan semua ini, simulasi ini, untukku, tapi selama ini aku tidak pernah menuntut apa pun darinya.
»»  READ MORE...

Setelah Kau Menikahiku (Part 1)

Penulis: Novia Stephani

   
”Aku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah," gerutuku.
Idan tertawa. "Ibumu menanyakan calonmu lagi?"
Aku mengangguk cemberut.
"Apa jawabanmu kali ini?" godanya.
"Aku tidak menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar."
Idan terbahak. "Kau kekanak-kanakan," katanya.
"Habis jawaban apalagi yang mesti kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan ibuku malah makin gencar menteror."

»»  READ MORE...

Jumat, 28 Maret 2014

Samudera Hati (Part 4)

“Berhentilah membicarakan tentang mimpi itu Saila. Bukankah dokter mengatakan semakin kau mengingatnya semakin lama pikiranmu akan pulih? Aku malah khawatir kau jadi depresi. Lantas...” kata-kata mas Deniez terhenti. Ia selalu mengingatkanku dan meyakinkan aku sekali lagi.
Aku memandangi tangan kiriku, jarum infus menusuk kulitku, mengalirkan cairannya dari belalai plastik menuju aliran darahku. Namun bukan itu yang sesungguhnya aku perhatikan, tapi sebuah MP4 hitam yag tergeletak di telapak tanganku. Aku berpikir keras untuk menemukan jawaban darimana sesungguhnya aku mendapatkan benda itu sebelum aku hilang kesadaran. Aku terus berpikir dan berpikir... tak ada sedikitpun kenangan tentang benda itu, kecuali di sebuah malam di musim dingin yang beku, Aidan memberikannya untukku agar aku tidak merasa sedih dan kesepian lagi. Agar benda itu bisa membantuku belajar menghapal Al-Qur’an.

»»  READ MORE...

Samudera Hati (Part 3)

Sehabis sholat shubuh aku segera membereskan mukenaku dan sajadahku.
Sekembalinya dari Masjid Aidan sendiri gegas mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk segera pergi ke Bandara.
“Aku hanya punya waktu satu bulan lagi untuk pertandingan di musim ini. Lalu libur musim panas, Insya Allah aku akan kembali saat itu.” Ujar Aidan seraya mengenakan kemeja hitam bergaris.
“Baiklah… datanglah saat wisuda pesantrenku Juni nanti. Saat musim panas nanti.” Aku membantu Aidan mengancingkan kemejanya.
»»  READ MORE...

Samudera Hati (Part 2)

“Ar-Rahman... ’Allamal qur’an... khalaqal insan...” ku dengar suara Aidan nyaring membacakan surat itu. Surat Ar-Rahman, surat favoritku, namun aku belum hafal semua ayatnya.
Perlahan butiran bening menetes dari ujung mataku. Mengalir kecil di pipiku. Aku menangis terharu. Tak pernah terpikir olehku dia dapat melantunkan ayat-ayat itu dengan indahnya. Masih teringat dalam benakku bayangan dua tahun yang lalu. Saat kulihat fotonya tengah memegang gelas berisi Champagne. Aku terpaku di balik pintu, hingga dia membacakan ayat-ayat terakhirnya.
»»  READ MORE...

Mahkota Cinta (Part 3)

Dua hari pertama di Pantai Dalam Kuala Lumpur, Zul sibuk mengurus berkas-berkas pendaftarannya ke Universiti Malaya. Dengan sabar Sugeng menemani dan mengantar ke sana kemari. Sugeng juga yang mengusahakan rekomendasi dari dua orang guru besar di Universiti Malaya (UM). Dan di hari ketiga berkas itu berhasil dimasukkan ke Institute Postgraduate Program (IPS). Zul mengambil program kerja kursus dan tesis di Fakultas Pendidikan Jurusan Sosiologi Pendidikan.

»»  READ MORE...

Samudera Hati (Part 1)

Karya : Fathia Mohaddisa

Part 1: Lelaki dari Benua Biru


Pagi itu setiap orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Beberapa orang hilir mudik di hadapanku. Aku dibuat pening karenanya, terutama ibu dan kak Yasmin. Meski tampak lelah, kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Kak Wafa, mas Deniez dan mas Fadli hanya terdengar suaranya. Memberi intruksi ini dan itu pada orang-orang yang sejak minggu kemarin telah meramaikan rumahku. Mereka yang dengan sukarela membantu mempersiapkan keperluan untuk acara hari ini. Namun aku tak melihat ayah sejak pagi tadi. Dimana beliau? Pasti beliau sedang mempersiapkan hal lainnya, yang entahlah aku tak mengerti atau mungkin beliau sibuk menyambut kedatangan para tamu.

»»  READ MORE...

Mahkota Cinta (Part 5)

Maka saya memilih saran yang kedua Pak. Lebih baik saya menikah saja dengan gadis itu. Dia masih gadis Pak. Dan baik hatinya."
Pak Muslim mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi kau benar-benar akan menikahi dia?"
"Iya Pak."
"Kau mantap?"
"Mantap Pak. Toh sudah saatnya saya menikah. Sekarang atau besok sama saja, saya harus menikah."
"Kau siap dengan segala risikonya?"
"Siap Pak. Mas Yahya sudah memberikan gambaran yang jelas. Bapak tadi juga menambahkan penjelasan. Saya harus bagaimana jika menikah?"
»»  READ MORE...

Mahkota Cinta (Part 4)

Dua hari pertama di Pantai Dalam Kuala Lumpur, Zul sibuk mengurus berkas-berkas pendaftarannya ke Universiti Malaya. Dengan sabar Sugeng menemani dan mengantar ke sana kemari. Sugeng juga yang mengusahakan rekomendasi dari dua orang guru besar di Universiti Malaya (UM). Dan di hari ketiga berkas itu berhasil dimasukkan ke Institute Postgraduate Program (IPS). Zul mengambil program kerja kursus dan tesis di Fakultas Pendidikan Jurusan Sosiologi Pendidikan.
"Kita tinggal menunggu surat panggilan dari UM. Jika diterima nanti pihak IPS UM akan mengirim offer letter ke alamat kita. Dengan offer letter itulah nanti kamu mengurus registrasi dan lain sebagainya." Jelas Sugeng pada Zul setelah berhasil memasukkan berkas ke IPS.
»»  READ MORE...

Mahkota Cinta (Part 2)

"Istirahat saja. Ini minumnya. Di kamar mandi ada sikat gigi yang masih baru, juga sabun cair, bisa kamu pakai jika mau mandi. Handuknya sudah saya siapkan di kamar mandi." Jelas Mari sambil meletakkan nampan itu di atas meja rias.
"Terima kasih Mbak."
"Jika perlu apa-apa bisa mengetuk kamar belakang. Saya ada di sana."
"Iya Mbak."
"Baik. Selamat istirahat." Kata Mari dengan tersenyum. Ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan pelan.
»»  READ MORE...

Mahkota Cinta (Part 1)

Sebuah Novelet Pembangun Jiwa oleh Habiburrahman El Shirazy



Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautan terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor Bahru.
»»  READ MORE...

Ketika Cinta Harus Bersabar (Part 4)

Mas Yusuf mengangguk pelan sambil mengganti pakaiannya.
”Kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau dirumah Bule Rinta ada selametan? Kalau aku tahu kan aku bisa datang. Kenapa kamu tidak memberi tahu aku Mas? Kenapa kamu pergi sendiri?”
”Ya...ya, karena acara kemarin baru hanya selametan. Nanti kalau acara khitanannya akan dilaksanakan baru aku kasih tahu” Jawab Mas Yusuf seolah tak bersalah.
”Kamu terlalu Mas” Ucapku sambil menahan tangisku di tenggorokan.

»»  READ MORE...

Ketika Cinta Harus Bersabar (Part 3)

Menurutku, mereka itu sombong. Mereka menganggap pahala mereka sudah banyak jadi tak perlu lagi memberikan tempat duduk pada ibu tua tadi demi mendapatkan sebuah pahala. Dan lebih celakanya lagi, pemikiran seperti itulah yang kini sudah tersetting di pikiran mereka masing-masing. Dan mereka juga beranggapan bahwa ibu tua tadi pasti juga akan mengerti kalau mereka tidak berkenan bangkit, itu karena mereka juga sama-sama lelah. Tapi menurutku, kadar

»»  READ MORE...

Ketuka Cinta Harus Bersabar (Part 2)

Tapi semua harapanku seolah sirna ketika Yusuf lebih memilih untuk tidur membelakangiku dan mematikan lampu yang ada disebelahnya. Keadaan kamar saat itu gelap seketika. Aku tak bisa merasakan apapun kecuali sakit yang tiba-tiba saja menyusup dalam dada. Aku ingin menjerit, aku ingin berteriak, tapi aku kembali sadar, bahwa ini hanya sebuah ujian yang Allah berikan untukku. Dan aku yakin, akan ada berlimpah-limpah hikmah yang akan aku dapat jika aku bersabar karenanya.
Rabbi, kuatkanlah aku malam ini........

* * *


»»  READ MORE...

Ketika Cinta Harus Bersabar (Part 1)

Karya : NURLAILA ZAHRA


Ya Rabbi, entah siapa yang tadi aku lihat. Malaikatkah? atau mungkin seorang alim yang menjelma seperti Malaikat? Entahlah. Tapi yang pasti, hatiku langsung berdetak kencang tatkala kedua mataku menatap tak sengaja wajah putih bersih nan berwibawa itu yang sempat melintasi penglihatanku. Sampai sekarang, sosok ‘malaikat’ itu masih melekat dalam benakku.
»»  READ MORE...

Bumi Cinta (Part 1)

Karya : Habiburrahman El Shirazy



Gumpalan tipis lembut bagai kapas nan putih itu terus turun perlahan lalu menempel di aspal, rerumputan, tanah, atap-atap gedung dan menyepuh kota Moskwa menjadi serba putih. Kota
katedral itu seolah diselimuti jubah ihram orang-orang suci. Dalam suasana serba putih, Moskwa
seolah memamerkan keindahan sihirnya di musim dingin.
»»  READ MORE...