Ayyas
memejamkan kedua matanya. Dirinya benar-benar diuji oleh Doktor Anastasia. Ini
semacam ujian lisan. Ia harus menjawab dengan baik. Ia tidak mau Doktor Anastasia bercerita kepada Profesor Tomskii bahwa dirinya bodoh, buta tentang segala hal yang berkaitan dengan
ilmu sejarah. Ia harus menunjukkan bahwa dirinya sebenarnya tidak perlu diuji lagi dengan
pertanyaan-pertanyaan sepele seperti itu. Sudah saatnya dirinya diajak berdialog sejajar dengan
siapa pun. Maka ia tidak mau menjawab seperti anak SD ketika ditanya oleh gurunya, jawabannya seperti hafalan, persis seperti yang tertulis dalam buku teks. Ia akan menjawab pertanyaan itu dengan cara yang sedikit berbeda. Dengan bahasa Inggris yang fasih, Ayyas berkata tenang,
semacam ujian lisan. Ia harus menjawab dengan baik. Ia tidak mau Doktor Anastasia bercerita kepada Profesor Tomskii bahwa dirinya bodoh, buta tentang segala hal yang berkaitan dengan
ilmu sejarah. Ia harus menunjukkan bahwa dirinya sebenarnya tidak perlu diuji lagi dengan
pertanyaan-pertanyaan sepele seperti itu. Sudah saatnya dirinya diajak berdialog sejajar dengan
siapa pun. Maka ia tidak mau menjawab seperti anak SD ketika ditanya oleh gurunya, jawabannya seperti hafalan, persis seperti yang tertulis dalam buku teks. Ia akan menjawab pertanyaan itu dengan cara yang sedikit berbeda. Dengan bahasa Inggris yang fasih, Ayyas berkata tenang,





